Skip to main content

Pendidikan Multikulturalisme Negara Spanyol (PPKn)

         

Spanyol adalah sebuah negara yang terletak di semenanjung Iberia Benua Eropa, tepatnya di Eropa bagian barat daya. Negara yang memiliki nama lengkap Kerajaan Spanyol (Kingdom of Spain) ini hanya berbatasan darat dengan dua negara yaitu berbatasan dengan Portugal di sebelah barat dan berbatasan dengan Perancis di sebelah Timur Laut. Sebelah Utara Spanyol adalah Samudera Atlantik sedangkan Selatannya adalah Laut Tengah (Laut Mediterania) yang memisahkan Spanyol dengan Negara-negara Afrika seperti Maroko dan Aljazair.

          Bentuk pemerintahan negara Spanyol adalah Monarki Konstitusional dengan kepala negara Raja FELIPE VI (sejak 19 Juni 2014) dan kepala pemerintah Perdana Menteri Mariano RAJOY (sejak 20 Desember 2011). Negara Spanyol memilki ibu kota Madrid, luas wilayah negara Spanyol sekitar 505.370 km² dengan jumlah penduduk sekitar 40.000.000 penduduk. Bahassa resmi yang digunakan disana adalah bahasa Galician (Galego), Catalan (Catalá), dan Basque (Euskera), dengan agama yang berlaku Katolik Roma 67,8%, Atheis 9,1%, tidak beragama 18,4%, lain-lain 4,7% . Mata Uang negara Spanyol adalah euro dan lagu kebangsaan nya “Himno Nacional Espanol” (National Anthem of Spain).

        2.     Sejarah negara Spanyol

          Untuk memahami situasi Spanyol sekarang mari kita lihat sejarahnya. Tapi, mari kita membuat jelas bahwa, sebagai Santos-Rego dan Nieto (2000) telah menunjukkan, karena proses sejarah dan sosial yang unik, multikulturalisme dalam kasus Spanyol sangat berbeda dari apa itu di Amerika Serikat. Penghuni pertama adalah Iberia dan Celtic dan Iberia-Celtic, dan penjajah pertama yang diketahui adalah Fenisia (1100 SM), diikuti oleh Yunani (630 SM) dan Kartago (550 SM). Spanyol menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi di 206 SM Pada tahun 412, barbar pemimpin Visigoth Ataulf menyeberangi Pyrenees dan memerintah Spanyol. Dalam 711, umat Islam memasuki Spanyol dari Afrika, dan tinggal di Spanyol bersama dengan Kristen dan Yahudi. Kombinasi ini budaya itu bukan tanpa konflik, meskipun menghasilkan berbagai macam seni, bahasa, dan budaya. Dalam 732, kaum Frank, yang dipimpin oleh Charles Martel, mengalahkan Muslim dekat Poitiers, sehingga mencegah perluasan lebih lanjut dari Islam di Eropa Selatan.

          Yang disebut “Reyes Catolicos” (Katolik “Kings” Fernando II, Raja Aragón, dan Isabel I, Ratu Castille) memprakarsai penyatuan politik Spanyol melalui pernikahan mereka di 1469, penaklukan (Granada, pada tahun 1492), dan aneksasi (Navarra pada 1515). Mereka juga mencoba unifikasi agama, memesan semua mereka yang tinggal di Spanyol untuk masuk agama Kristen.

          Tahun 1492 ini relevan karena kedatangan Christopher Columbus di Amerika. Yahudi diusir oleh Katolik “Kings,” dan nasib yang sama ditunggu umat Islam dari Granada di 1502. The Kings juga memerintahkan, pada 1499, yang Gipsi diperlukan untuk memiliki tetap tempat tinggal dan pekerjaan yang diketahui, jika tidak mereka akan diusir. Semua ini meluncurkan Inkuisisi Spanyol terkenal, yang dicari, dengan segala cara, untuk mengamankan kesatuan Gereja Katolik.

          Kami menganggap penting untuk dicatat bahwa hasil dari penyatuan Spanyol mengakibatkan perluasan kekuatan takhta dan ini pembatasan yang dikenakan pada perilaku linguistik dan budaya di kerajaan otonom sebelumnya. Esteve (1992) menunjukkan bahwa periode ini dapat diklasifikasikan sebagai periode melting pot kebijakan. Gerakan Republik Kedua (1931-1936) menyebabkan konstitusi yang menyatakan Spanyol “republik pekerja,” putus negara-negara besar, memisahkan Gereja dan Negara, sekolah sekuler, dan menyatakan otonomi Catalonia, Basque Country, dan Galicia. Pada tahun 1936, General Francisco Franco Bahamonde memimpin pemberontakan terhadap pemerintah. Perang saudara yang diikuti berlangsung 3 tahun-dan hampir satu juta orang kehilangan nyawa mereka. Beberapa ratus sayap kiri Amerika Serikat bertugas di Abraham Lincoln Brigade di sisi Republik. Perang berakhir ketika Franco mengambil Madrid pada tahun 1939. Dia kemudian menjadi seorang diktator. Sekali lagi, persatuan nasional dan kebijakan asimilasi didirikan, dan asimilasi budaya diberlakukan. Penggunaan bahasa daerah dilarang.

          Sejak tahun 1978, setelah kematian Franco, dan penobatan Raja Juan Carlos I pada tahun 1982, Komunitas Otonom telah diakui sebagai demikian berkat Demokrasi Konstitusional. Kebijakan budaya yang telah ada selama lima abad terakhir telah yang asimilasi budaya dan dominasi dan telah mempengaruhi sikap Spanyol saat ini terhadap keragaman. Salah satu reaksi terhadap ideologi Franco, yang melarang penggunaan bahasa lain selain Spanyol, telah peningkatan dukungan untuk bahasa daerah, terutama di Catalonia, Galicia, dan negara Basque.

          Tidak ada kebijakan tunggal unik budaya di Spanyol saat ini. Ada resmi Komunitas Otonomi bilingual dengan mayoritas linguistik dan minoritas, Komunitas monolingual dan seperti di banyak negara lain, bahasa lain dituturkan oleh imigran. Pada tanggal 30 Desember 1997 hukum yang telah disetujui di Catalonia yang disebut Ley del Catalan (Undang-Undang Bahasa Catalan) yang selanjutnya mendorong penggunaan bahasa Catalan di Catalonia terutama di sekolah-sekolah dan di tempat-tempat resmi. Hal tersebut menggantikan orang Ley de Normalisasi Lingüística (UU untuk Bahasa Normalisasi) dari tahun 1983. Lain Hukum untuk Bahasa Normalisasi disahkan di negara Basque pada tahun 1982 dan di Galicia pada tahun 1983. Hukum Catalan Bahasa, meskipun telah disetujui oleh 80% dari partai politik di Catalonia telah menciptakan kontroversi karena perasaan tekanan yang dirasakan oleh orang-orang yang bukan penutur Catalan (termasuk imigran) untuk menggunakan bahasa.

        3.     Keberagaman negara Spanyol

                      Masyarakat Spanyol merupakan keturunan dari banyak budaya, pada zaman prasejarah, orang Iberia asli menyerap budaya bangsa Celtic. Bangsa Celtic kemudian menyebar di sebagian besar Eropa. Perjalanan sejarahnya dipengaruhi oleh banyak budaya dan negara. Akar budaya Spanyol berasal dari perpaduan budaya Latin, Visigothic Eropa, Katolik Roma, Islam Timur Tengah, dan lingkungan Mediterania. Hal ini menjadikan Spanyol sebagai sebuah bangsa dengan keragaman budaya yang tinggi.

                      Keragaman budaya yang tinggi dapat dilihat dari beberapa budaya populer Spanyol seperti tarian flamenco, adu banteng, bull-run, dan tomatina yang banyak mendapat pengaruh dari berbagai latar belakang budaya. Benang merah dari keragaman budaya ini adalah kecintaan akan tantangan unsur-unsur ‘kegilaan’  chaotic yang diimbuhi suasana kontradikti. Salah satu contoh budaya Spanyol yang memperoleh begitu banyak pengaruh adalah tarian Flamenco. Sekarang ini tarian Flamenco dianggap sebagai salah satu bentuk budaya Spanyol secara umum. Namun, sebenarnya tarian Flamenco merupakan salah satu tarian pergaulan tradisional berasal dari Andalusia, yang terletak di wilayah selatan. Akar dari tarian Flamenco berasal dari budaya kaum Gipsi Andalusia dan budaya Islam Persia. Dengan semakin berkembangnya tarian ini di wilayah lain, tradisi musik lokal ikut mempengaruhi, seperti unsur musik tradisional Castilia. Keberagaman ini menjadikan tarian Flamenco sebuah tarian dengan genre musik yang kuat, ritmik, bertenaga, anggun dan indah.

          Karena keberagaman yang tinggi, kadang budaya Spanyol diwarnai dengan kontradiksi. Sebagai contoh, adu banteng, atau Corrida de toros bagi orang Spanyol, merupakan pertunjukan juga olah raga Byang menarik dan penuh kontradiksi. Secara visual, tampilan matador dalam kostum serba gemerlap dan halus, badan yang selalu langsing dan sportif, begitu kontras dengan tampilan banteng yang gelap, solid, dan sangat ganas. Gerakan matador yang bagai tarian diakhiri dengan tebasan pedang. Lapangan berpasir yang putih pun memerah oleh darah banteng. Keindahan? Ya. Sadis? Ya juga. Kengerian bagi penonton yang tak akrab dengan tradisi ini. Namun, kemampuan matador dalam menghindar dari terjangan banteng, terlebih sikapnya yang menantang si banteng menjadi kenikmatan tersendiri. Karenanya ia bertahan, bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bakal menyingkir dari lubuk sanubari penggemarnya di Spanyol, Portugal, Prancis Selatan, dan negara-negara Amerika Latin. 

          Lalu ada La Tomtina, La Tomatina merupakan acara perang makanan dalam festival kota Bunol di wilayah Valencia yang diadakan setahun sekali pada hari rabu di akhir bulan Agustus. Ratusan orang datang dari seluruh penjuru dunia datang untuk ikut dalam timpuk-timpukan menggunakan tomat yang sudah terlalu matang. La Tomatina merupakan bagian dari festival selama seminggu yang diisi dengan pertunjukkan musik, parade, tarian, dan pertunjukkan kembang api. Semalam sebelum Tomatina, partisipan akan berkompetisi dalam kontes memasak paella (masakan tradisional spanyol yang terdiri dari nasi, ikan, tomat, dan sayur-sayuran). Diperkirakan turis yang datang ke acara ini mencapai 20.000-40.000 orang. Melebihi penduduk Bunol yang berjumlah 9.000. Karena akomodasi yang terbatas, akhirnya pada turis umumnya tinggal di kota Valencia dan naik bus atau kereta untuk menuju ke Bunol, yang terletak 38 km dari Valencia. Sebagai persiapan, para pemilik toko dan rumah akan menggunakan plastik besar sebagai pelapis bagian depan bangunan mereka supaya terlindung.

          Selain adu banteng ada salah satu olah raga ekstrim lagi yang terdapat di Spanyol yang telah ada dari zaman dahulu yaitu adu lari dengan banteng atau dalam bahasa Spanyol ‘el encierro’ merupakan suatu tradisi berlari di depan banteng-banteng yang telah dilepaskan ke suatu jalan kota yang telah disekat khusus untuk acara ini. Walaupun acara ini sering diadakan di festival kota dan desa di seluruh Spanyol, namun acara el encierro yang paling terkenal adalah di festival San Fermin di Pamplona, yang disiarkan langsung di Television Espanola dan Cuatro.

          Tradisi ini bermula dari upaya memindahkan banteng-banteng dari kandang di pinggir kota (dimana mereka berada pada malam harinya) menuju ke arena adu banteng. Para pemuda biasanya suka melompat ke depan banteng-banteng itu untuk menunjukkan keberanian mereka. Sejak tahun 1924 telah tercatat 15 orang meninggal di Pamplona akibat acara ini. Korban meninggal terakhir pada tahun 1995 yaitu seorang turis dari Amerika.

          Tidak seperti adu banteng yang dilakukan oleh profesional, dalam acara el encierro ini, setiap orang boleh berpartisipasi. Luka-luka menjadi hal yang lumrah dalam acara ini, baik dari partisipan yang terseruduk banteng, maupun banteng yang tanduknya tersangkut di bebatuan jalan.  Orang Spanyol juga memiliki kebiasaan-kebiasaan yaitu :

1.      Siesta adalah tidur siang singkat setelah makan siang dalam budaya Spanyol. Kata siesta berasal dari Bahasa Spanyol, hora sexta– jam keenam (artinya, jika dihitung dari fajar sampai siang, maka diistilahkan “istirahat tengah hari”).

2.      Adat di Spanyol tidaklah terlalu sulit. Saat bertamu mereka biasakan membawakan sedikit hadiah. Biasa mereka membawakan hadiah seperti bunga (bunga Delima)

3.      Di Spanyol kita tidak akan menemukan antrian baris memanjang. Ketika sudah giliran kita, cukup maju dan katakan bahwa sudah itu giliran kita.

4.      Ketika menghadiri acara non formal di Spanyol sebaiknya telat sekitar 10 sampai 15 menit. Orang Spanyol sarapan sekitar jam 7-8 pagi dengan menu jus, kopi, biskuit. Jam makan siang dari jam 13.00-15.30. Sebelum makan siang biasanya minum arak dulu. Jam makan malam orang Spanyol adalah dari jam 20.30-23.00. Banyak restoran buka dari jam 9 malam.

5.      Masyarakat Spanyol termasuk masyarakat yang sangat ramah , baik orang yang dikenal maupun tidak dikenal .

 

Umumnya, Spanyol adalah orang yang sangat terbuka dan komunikatif, mereka nilai sangat keluarga mereka, hubungan pribadi dan tradisi budaya. Mereka biasanya tidak menempatkan terlalu banyak penekanan pada kerja, karena mereka ingin fokus pada luang mereka dan hidup setiap hari dengan penuh. Secara umum, keluarga dan ikatan sosial lebih penting daripada kehidupan kerja seseorang di Spanyol. Sangat penting untuk menyadari fakta ini ketika melakukan bisnis dengan orang-orang Spanyol, karena hal ini dapat membantu Anda untuk memahami sudut pandang rekan-rekan Spanyol Anda dalam berbagai situasi.

        4.      Pendidikan Multikultur di Negara Spanyol

Spanyol adalah salah satu negara yang multikultural, seperti layaknya negara-negara lain di seluruh dunia. Pendidikan multikultrural di Spanyol saat ini  mencoba untuk memberikan lebih banyak kekuatan untuk daerah otonom di Spanyol yang mengarah ke peningkatan motivasi untuk lebih memperkuat bahasa daerah dan tradisi lokal. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dengan mengamati bahwa mereka yang pindah dari luar maupun dari dalam negara Spanyol itu, dipaksa untuk belajar bahasa daerah, terutama di sekolah-sekolah.

Meskipun pendidikan multikultural atau bisa juga di sebut sebagai pendidikan antar budaya merupakan kebutuhan sosial, kurikulum di Spanyol tidak memasukan pendidikan multikultural ini ke dalam kurikulum pendidikan mereka. Seperti yang dikatakan pada poin-poin di atas, Spanyol belum benar-benar secara nyata dan jelas memasukan pendidikan multikultur ke dalam mata pelajaran di sekolah-sekolah. Namun, di negara Spanyol terdapat mata pelajaran yang bisa kita sebut sebagai Pendidikan Perdamaian dimana dalam tujuan umum pendidikan perdamaian tersebut adalah agar para peserta didik di Spanyol atau warga negara Spanyol paham akan sikap-sikap toleransi, menghormati berbagai etnis-etnis agama yang ada di dunia, dan munculnya budaya keragaman.

Salah satu penelitian juga mengungkapkan jika saat ini para guru di Spanyol yang ikut menanamkan nilai-nilai multikulturalisme sudah sangat jarang. Hasil dari penelitian lain mengungkapkan bahwa mayoritas guru masih fokus pada pengajaran efektivitas dan bahasa. Jadi masih banyak guru di Spanyol yang hanya terpaku pada mata pelajaran yang mereka ajarkan saja, mereka hanya berpatokan pada sistem belajar mengajar yang efektif tanpa memikirkan jika pendidikan multikulturalisme pun sangat penting diajarkan demi terciptanya persatuan dan kesatuan demi terwujudnya perdamaian negara.

Sebagian besar guru di Spanyol belum mengadaptasi metode pengajaran mereka sesuai dengan gaya belajar budaya yang tentunya setiap anak berbeda. Terutama anak-anak yang berasal dari luar Spanyol, tentunya mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan gaya belajar di sekolah-sekolah yang ada di Spanyol. Menurut penelitian, guru disana pun belum memberi perhatian kepada budaya sekolah dan kepada pendidikan multikultural sebagai kurikulum tersembunyi sehingga pendidikan multikultural di Spanyol dikatakan belum berjalan sesuai dengan yang semestinya.

Jika dikaji lebih mendalam hal-hal tersebut belum mencerminkan sikap dan semangat guru multikultural. Seharusnya, untuk menerapkan pendidikan multikultural yang baik, langkah pertamanya adalah dimulai dalam diri seorang guru atau pendidik terlebih dahulu. Dengan guru selalu senantiasa menanamkan dalam diri mereka makna dan pentingnya pendidikan multikulturalisme, tentu para siswa juga mengikuti sikap yang dilakukan oleh gurunya. Karena pada hakikatnya guru adalah sosok yang digugu dan ditiru segala sikap dan tingkah lakunya.

Di daerah-daerah yang cenderung banyak murid imigran di sekolah, seperti Galicia, guru merasa kurangnya persiapan dalam menerapkan pendidikan multikultural ini, tetapi mereka pun menyangkal tentang akan adanya akibat-akibat yang muncul ketika pendidikan multikultural yang tidak diajarkan secara memadai.

Guru-guru ini mengklaim bahwa mereka memperlakukan semua siswa sama sehingga pendidikan multikultur kurang menjadi fokus mereka. Menurut sumber yang akurat, seharusnya terdapat lima implikasi untuk meningkatkan pendidikan guru multikultural di Spanyol, yakni:

1.        Pendidikan guru multikultural perlu membangun persepsi bahwa setiap siswa membawa budaya yang berbeda

2.        Pendidikan guru multikultural perlu didasarkan pada konseptualisasi hubungan antara guru, orang tua, dan anggota masyarakat lainnya.

3.        Pendidikan guru multikultural perlu mempertimbangkan konteks sosial politik di mana sekolah berlangsung.

4.        Pendidikan guru multikultural perlu dikaitkan dengan transformasi kurikulum dalam kursus pendidikan guru.

5.        Pendidikan guru multikultural juga perlu terikat dengan kurikulum transformasi dalam kursus pendidikan umum.

 

Pendidikan multikultural dikatakan sangat penting, karena pendidikan antar budaya ini mendorong siswa untuk dapat menerima keanekaragaman yang ada di negara Spanyol. Karena jika pendidikan multikultural sukses, anak-anak di Spanyol pun dapat menerima budaya yang berbeda-beda yang berasal dari berbagai macam siswa, terutama kebudayaan di luar Spanyol yang di bawa dari anak-anak imigran.   Beberapa ahli pendidikan mengatakan jika mereka sangat yakin bahwa persiapan guru adalah kunci utama untuk keberhasilan pendidikan multikultural. Mereka berkata bahwa sangat penting untuk mempersiapkan guru untuk memahami murid dan latar belakang keluarga mereka.

 

Dan mereka menyatakan bahwa lembaga-lembaga khususnya lembaga pemerintahan memiliki potensi untuk mengembangkan program-program multikultural untuk orientasi positif. Jadi, jika guru tidak terlibat dalam keberlangsungan pendidikan multikultural atau mungkin tidak sensitif terhadap isu-isu antar budaya, maka pendidikan multikultual sangat sulit untuk dijalankan. Karena guru adalah elemen kunci dalam proses perubahan.

 

Mengingat tentang perubahan-perubahan sosial yang sangat banyak terjadi, pendekatan untuk pembelajaran murid di Spanyol harus dikaji ulang. Guru harus mampu mengevaluasi tentang masalah moral dan etika anak-anak di Spanyol dengan adil dam tanpa adanya keberpihakan. Karena pada kenyataanya,ekspresi rasis dan gambar masih banyak terkandung dalam buku-buku sekolah di Spanyol. Sampai saat ini pun belum ada kebijakan untuk mendorong pengawasan dari buku-buku sekolah tersebut yang mengandung komentar diskriminatif atau ambigu. Beberapa diskriminasi itu misalnya “untuk bekerja seperti black/ras berkulit hitam” (yang berarti bekerja banyak, non stop), “menjadi Gypsy” (yang berarti orang yang salah, yang tidak dapat dipercaya, atau anak nakal), “ia kembali tampak seperti Gypsy” (artinya, dia benar-benar kotor), “jangan khawatir, itu bukan noda Yahudi” (yang berarti bahwa noda tidak seperti yang buruk), “keinginan emas dan Moor”(artinya menjadi terlalu ambisius, ingin segalanya untuk diri sendiri), dan sebagainya.

 

Maka dari itu, para guru di Spanyol harus mampu membuat program kerja praktek dengan tujuan yang dapat dilaksanakan dengan baik, tentunya menyangkut pendidikan multikultural ini, Pelajaran di negara-negara Eropa dan non-Eropa lainnya pun menunjukkan bahwa untuk bergerak menuju pemikiran negara multikultural adalah proses yang sangat sulit dan menyakitkan. Dan semua itu dibutuhkan waktu dan kesabaran yang luar biasa. Para pakar pendidikan di Spanyol juga yakin bahwa semua guru mata pelajaran harus mampu menanamkan nilai-nilai keberagaman demi suksesnya pendidikan multikultural di Spanyol. Yang terakhir, guru juga harus paham tentang isu-isu ekonomi, politik, dan sistem sosial agar mereka mampu mengajarkan kepada siswa untuk menghadapi ketidakseimbangan masyarakat yang terjadi di Spanyol saat ini.

 

        5.      Evolusi Dan Hukum Imigran di Spanyol

Sejarah Spanyol telah ditandai oleh dua jenis gerakan migrasi, satu internal dan eksternal lainnya. Secara internal, gerakan dibuat dari daerah pedesaan ke orang-orang perkotaan, khususnya terhadap daerah industri yang lebih besar. Misalnya, hanya dalam 20 tahun, antara tahun 1950 dan 1970, lebih dari setengah juta imigran pindah dari daerah selatan pedesaan Spanyol ke timur laut Catalonia, terutama untuk provinsi Barcelona.

Antara tahun 1882 dan 1896, 360.000 orang Spanyol bermigrasi ke selatan dan Amerika Tengah; antara tahun 1901 dan 1910, 100.000 orang bermigrasi per tahun. Argentina, Kuba, Meksiko, Uruguay, dan Brasil adalah tujuan utama bagi kebanyakan orang, banyak dari mereka berasal dari wilayah Galicia. Oleh karena itu, semua imigran Spanyol tiba di Argentina disebut “Gallegos” (Galicians). Berdasarkan pembatasan imigrasi di negara-negara Amerika, dan kemudian kediktatoran Franco (1939-1975) juga mengakibatkan migrasi ke Amerika menurun.

Pada tahun 1959, kebijakan ekonomi Franco berubah, mencoba untuk mengakhiri isolasi politik negara. Kenaikan pengangguran adalah hasil, yang menyebabkan aliran migrasi baru. Orang pindah dari pedesaan ke kota-kota, atau dari (a) pedesaan ke daerah perkotaan, seperti dalam kasus Catalonia yang telah disebutkan (migrasi internal), dan (b) aliran ke negara-negara Eropa utara. Pada saat itu setengah juta orang Spanyol kembali ke Spanyol. Meskipun demikian, pada tahun 1994 masih ada banyak warga Spanyol tinggal di luar negeri (1,6 juta orang Spanyol di luar negeri, 52% di Amerika Latin, 45% di negara-negara Eropa lainnya) dari orang asing yang tinggal di Spanyol.

Dari tahun 1960-an dan seterusnya sejumlah besar orang Spanyol bermigrasi ke bagian lain Eropa. Sesuai dengan tulisan Gonzalo dan Villanueva (1996), antara tahun 1960 dan 1973, sekitar 3 juta orang pergi ke Jerman, Perancis, Swiss, Belanda, dan Inggris. Menurut Escribano (1993), 1962-1976, 1.063.380 pekerja Spanyol pergi ke negara-negara tersebut.

Karena penutupan perbatasan dan penetapan kebijakan migrasi membatasi di negara-negara Eropa lainnya, terutama di Perancis dan Italia. Menurut Gonzalo dan Villanueva menyatakan bahwa penutupan perbatasan Amerika Utara juga berarti masuknya Filipina dan orang-orang Amerika Latin ke Spanyol; Amerika Latin dipaksa untuk membatasi imigrasi oleh kediktatoran militer (Franco), terutama di Argentina, Chile, dan Uruguay. Statistik mengenai jumlah orang asing yang tinggal di Spanyol secara substansial berbeda-beda tergantung baik pada sumber yang digunakan, dan pada kesulitan dalam mengetahui jumlah mereka yang masuk Spanyol secara “ilegal” atau biasa disebut sebagai “tidak resmi”.

Menurut statistik resmi tentang orang asing dengan izin tinggal (data 31 Desember 1999), Spanyol adalah rumah bagi 801.329 orang, di antaranya 361.873 orang Eropa, terutama Inggris (76.402) dan Jerman (60.828); 211.564 adalah Afrika, terutama Maroko (161.870). Proporsi yang lebih besar dari imigran di Spanyol terletak di 6 dari 17 Otonomi Komunitas Spanyol (Catalonia, Kepulauan Canary dan Kepulauan Balearic, Valencia, Andalousia, dan Madrid), yang juga rumah 61,6% dari penduduk asli Spanyol. Dari populasi imigran, 52,8% terkonsentrasi di Madrid, Barcelona, Alicante, dan Málaga. Meskipun demikian, jumlah imigran juga meningkat di semua bagian lain dari Spanyol. 

Gonzalo & Villanueva (1996) memperkirakan jumlah orang asing yang tinggal di Spanyol menjadi 800.000 (sekitar 2% dari total orang penduduk terutama pensiun yang tinggal di selatan dan pantai tenggara dari Spanyol) menjadi setengah dari Dunia dan setengah dari negara Eropa atau Amerika Utara yang telah dipastikan oleh badan Statistik resmi dari bulan Desember 1996. Kami percaya bahwa, jika kita menghitung kedua imigrasi legal dan ilegal, pada akhir Januari 2001 sekitar 1.200.000 orang asing akan tinggal di Spanyol (sekitar 3% dari total populasi).

UU Konstitusi Spanyol (27 Desember 1978) dan Ley Orgánica de Extranjería (Hukum Umum untuk Orang Asing) (1985), Hak Fundamental Manusia Asing Association (1987) menerbitkan sebuah dokumen yang mengklaim bahwa tingkat rasisme di Spanyol yang tinggi meskipun orang Spanyol tidak menyadari bahwa mereka memiliki sikap rasis, terutama terhadap Gipsi dan Black Afrika. Penelitian persepsi/sikap pemuda Spanyol yang dilakukan di Spanyol oleh Calvo-Buezas pada tahun 1986, 1993, dan 1997, menunjukkan bahwa prasangka, xenophobia, dan bahkan rasisme, terhadap Gipsi Spanyol, “Moor-orang Arab,” dan Black Afrika cukup signifikan. Sikap negatif ini tumbuh antara tahun 1986 dan 1993, sedikit menurun pada tahun 1997. Calvo-Buezas mencatat bahwa, meskipun antara tahun 1986 dan 1983 sikap rasis tumbuh di kalangan anak muda Spanyol, sikap solidaritas juga telah muncul. Selain itu, terdapat konflik di Spanyol terutama di beberapa daerah otonom. Di satu sisi, ada kecenderungan saat ini untuk mengkonsolidasikan identitas budaya dan bahasa dari komunitas ini (terutama di negara Basque, Galicia, dan Catalonia), sedangkan, di sisi lain, ada peningkatan populasi melalui imigrasi dan mobilitas internal.

Rasisme diperparah oleh banyak imigran memasuki negara itu. Misalnya, peningkatan jumlah perempuan dan anak-anak pada tahun 1989 disebabkan perasaan sakit yang cukup besar di Catalonia. Pendapat umum adalah bahwa mereka tidak akan memberikan kontribusi apa pun untuk ekonomi, tetapi mereka akan meningkatkan permintaan untuk sumber daya tambahan untuk memenuhi kesehatan, pendidikan dan kebutuhan perumahan.

Meskipun sejumlah program pendidikan antarbudaya berlangsung di seluruh Spanyol (terutama di Catalonia dan Madrid), dapat dikatakan bahwa komitmen umum untuk pendidikan antarbudaya tidak dianggap sebagai prioritas nasional, meskipun sudah ada ketentuannya dari The Khidmat Deklarasi of Intent Persatuan ditandatangani oleh kepala negara dan pemerintah di Stuttgart pada tahun 1983 dan Maastricht Treaty (1993), Perjanjian Schengen (ditandatangani pada tahun 1990, dan diberlakukan pada tahun 1995), dan Perjanjian Amsterdam (1997) untuk dapat  dipromosikan lebih mudah dari gerakan antara negara-negara, serta perlakuan yang sama bagi semua dan penghormatan terhadap budaya yang berbeda.

Sekolah adalah mikrokosmos dari masyarakat dan pendidikan harus memimpin untuk memastikan sikap positif tentang keragaman budaya. Interpretasi media massa isu etnis dapat dihadapkan melalui pendidikan, gaya hidup serta pemikiran massa yang dapat dievaluasi.  Berdasarkan kebutuhan mendesak mengenai kebijakan untuk orang asing memicu diciptakannya undang-undang yang sekarang ada untuk menegakkan hak-hak dan kebebasan dari orang-orang asing yang tinggal di Spanyol. Hukum Konstitusi Spanyol, yang disetujui pada tahun 1978, menciptakan kerangka legislatif konstitusional untuk mengurusi ketentuan tentang orang asing.

Tiga tahun kemudian, pada bulan November 1981, Dewan Menteri dari Partai Sosialis menyetujui Blueprint dari Ley Orgánica de Extranjería (Hukum Umum untuk Orang Asing). Hukum ini telah disetujui pada tahun 1985. Tapi, terlepas dari Hukum Konstitusi Spanyol dan Hukum Umum untuk orang asing, setidaknya dalam teori, juga bisa dilindungi karena Spanyol telah menandatangani Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Internasional Pakta dari Hak Sipil dan Politik tahun 1956, dan Konvensi Eropa untuk Perlindungan Kebebasan Fundamental dan Hak Asasi Manusia, yang ditandatangani di Roma pada tahun 1950. (Spanyol meratifikasi International Pakta dari Hak Sipil dan Politik pada 13 April, 1977, dan Konvensi Eropa untuk Perlindungan Kebebasan Fundamental dan Hak Asasi manusia, pada 26 Mei, 1979). Terlebih lagi adnya penandatanganan perjanjian fakta bahwa Spanyol kemudian masuk Masyarakat Eropa (Uni Eropa sekarang) pada 26 Mei 1986.

Setelah Spanyol menjadi bagian dari Uni Eropa, para imigran menggunakan Spanyol sebagai “pintu gerbang” atau negara transit ke bagian lain Eropa, terutama dari negara-negara Dunia Ketiga, dihadapkan dengan kesulitan yang lebih besar karena undang-undang yang lebih ketat. Sebaliknya sering terjadi dengan adanya imigrasi melalui perbatasan utara Spanyol, terutama yang dari timur laut dari Eropa, sesuatu yang bahkan bisa meningkatkan perbedaan antara negara maju dan berkembang.

Hukum Umum untuk Orang Asing juga telah banyak dikritik, dan itu akan dibahas dalam paragraf berikutnya, hal ini jelas menguntungkan karena ikatan sejarah yang berbeda, untuk Amerika Latin, Portugis, Filipina, EcuatoGuineans, Sephardim (Spanyol Yahudi), Andorra (warga dari sebuah negara kecil di Pyrenees), dan orang-orang asli dari Gibraltar, ketika mereka mencari pekerjaan Di spanyol. Maroko yang tinggal di kota-kota Spanyol Ceuta dan Melilla (geografis ditempatkan di utara Maroko) tidak menerima pengobatan sebagai menguntungkan. Mereka yang membutuhkan suaka, dan pengungsi, memiliki status khusus, dan status istimewa diberikan kepada stateless.

Ada beberapa alasan di balik kritik UU Umum untuk Orang Asing. Yang paling penting mengatakan bahwa itu adalah penuh dengan kontradiksi, disfungsi, ketidakjelasan, dan bahwa itu bahkan tidak konstitusional. Deportasi cepat dianggap sebagai solusi yang berarti bahwa seorang imigran dilarang masuk ke negara itu selama 3 tahun. Waktu membuktikan, bagaimanapun, bahwa ini bukan solusi sama sekali. Pada tahun 1996 Kepolisian Spanyol dan Garda Sipil ditangkap 11.000 imigran “ilegal” karena mereka memasuki negara itu. Pada tahun 1997, lebih jauh 13.000 tertangkap dan ditahan pada saat kedatangan. Banyak imigran, laki-laki terutama muda Afrika, yang berhasil melarikan diri dari penangkapan, ada yang meninggal ketika mencoba untuk mencapai pantai selatan Spanyol, terutama Almería, Cádiz, dan Málaga, menggunakan perahu kecil yang disebut Pateras. Saat ini lebih banyak perempuan dan remaja, antara imigran “ilegal” atau tidak resmi dan mereka biasanya dari kelas sosial terendah. Namun, meskipun banyak yang mati dalam upaya melarikan diri tetap saja imigran terus masuk Spanyol, berkat “bantuan” dari Mafia terorganisir yang mengeksploitasi mereka sebelum dan setelah mereka memasuki Spanyol.

Sejak 11 Januari 2000, Spanyol mendirikan hukum imigrasi baru. Undang-undang baru ini adalah inovatif berkaitan dengan isu-isu kunci seperti pendidikan, kesehatan dan izin kerja. Bisa dikatakan bahwa itu adalah salah satu hukum yang paling nyaman bagi imigran dari seluruh Eropa. Namun, setelah pemilihan umum Maret 2000, pemerintah berpendapat mungkin karena tingginya jumlah orang asing (245, 665) yang ingin melegalkan status Spanyol memutuskan untuk mereformasi hukum. Reformasi telah disetujui pada 22 Desember 2000 dan terutama khusus, membuat jelas perbedaan antara imigran legal dan ilegal.

Comments

Popular posts from this blog

Ancaman di Bidang Politik

Ancaman dibidang politik merupakan ancaman yang dapat bersumber dari luar negeri maupun dalam negeri dan Ancaman di bidang politik adalah setiap usaha dan kegiatan baik dalam negeri maupun luar negeri yang dikategorikan sebagai hal yang membahayakan dan memecah belah persatuan dengan mengatas namakan politik. Dari luar negeri ancaman dibidang politik dapat dilakukan oleh suatu negara dengan melakukan tekanan politik terhadap Indonesia. Intimidasi, provokasi, atau blokade politik ialah merupakan bentuk ancaman non-militer berdimensi politik yang sering kali digunakan oleh pihak-pihak lain untuk menekan negara lain. Bentuk ancaman yang berasal dari luar negeri diperkirakan masih berpotensi terhadap Indonesia, yang memerlukan peran dari fungsi pertahanan non-militer untuk menghadapinya.  Berikut ini merupakan contoh ancaman politik yang berasal dari dalam negeri:  1. Korupsi (Tindak pidana korupsi merupakan contoh ancaman politik yang bersifat intern, tindakan korupsi dapat merug...

Ancaman dibidang Ekonomi

  Ancaman integrasi nasional di bidang ekonomi merupakan sebuah ancaman yang di dalamnya tidak dilibatkan kekuatan senjata atau peralatan berbahaya lainnya di bidang ekonomi namun jika terus dibiarkan maka ancaman tersebut akan berbahaya bagi kedaulatan dan keutuhan seluruh wilayah negara serta akan memberi dampak buruk terhadap keselamatan masyarakat terutama di bidang ekonomi.Ancaman dibidang ekonomi adalah berbagai usaha serta kegiatan yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri yang dinilai mengancam serta membahayakan keamanan finansial dan pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia. Pada saat ini ekonomi suatu negara tidak dapat berdiri sendiri Hal tersebut merupakan bukti nyata dari pengaruh globalisasi. Dapat dikatakan saat ini tidak ada lagi negara yang mempunyai kebijakan ekonomi yang tertutup dan pengarah negara laimya Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomo dan perdagangan ketika negara-negara diseluruh dunia menjadi satu kekuatan pas...

Ancaman Terhadap Integrasi Nasional di Bidang Ideologi

A. Ancaman dibidang Ideologi Ideology secara etimologis berasal dari kata idea dan logos. Idea berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita. Kata idea berasal dari bahasa yunani ideos yang berarti bentuk atau idean yang berarti melihat, sedangkan logos berarti ilmu. Ideology dapat juga diartikan suatu kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas, pendapat yang memberikan arah tujuan untuk kelangsungan hidup. Ancaman dibidang Ideologi adalah ancaman yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan pemikiran masyarakat suatu Negara sehingga akan mengancam terhadap dasar falsafah Negara yaitu pancasila.    B. Ciri-ciri ancaman dibidang Ideologi:  1. Menciptakan konflik  2. Menghalalkan segala cara  3. Masuknya paham lain  4. Pandangan terhadap agama yang sempit  5. Masalah primordialisme  6. Perlakuan kelompok radikal    C. Akibat/Penyebab ancaman dibidang Ideologi:  1. Melemahnya pemahaman mayarakat tentang ideology bangsa...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Politik

Jika membahas tentang Politik maka sangat berkaitan dan berhubungan dengan keputusan dan kebijakan penyelenggaraan Negara untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, Indonesia yang menganut paham demokrasi Pancasila harus mampu menumbuhkan dan membentuk pemerintahan yang kuat, mandiri, dan tahan uji serta mampu mengelola berbagai konflik didalamnya. Strategi mengatasi   ancaman berdimensi politik sebagai berikut: a.        Pendekatan kedalam (penataan system politik dalam negeri yang bertujuan menciptakan stabilitas politik dalam negeri yang dinamis) pendekatan ini dapat dilakukan dengan 3 pilar yaitu: 1.       Penguatan pemerintahan Negara yang sah, efekti, bersih nerwibawa dan bebas KKN serta bertanggung jawab. Strategi ini akan mampu mewujudkan tujuan pembentukan pemerintahan negara sesuai pembukaan UUD NRI Tahun 1945. 2.       Penguatan lembaga legislative bertujuan menciptakan lembaga yang b...

Ancaman dibidang Pertahanan dan Kemanan NKRI

Ancaman di bidang pertahanan dan keamanan adalah ancaman terhadap integrasi bangsa yang perlu kita waspadai yang mengancam segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah sebuah negara dan keselamatan segenap bangsa yang dapat berasal dari luar maupun dalam negeri. Bentuk lain dari ancaman militer terjadinya adalah tindakan pelanggaran wilayah (wilayah laut, ruang udara, dan daratan) Indonesia oleh negara lain. Konsekuensi Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas dan terbuka berpotensi terjadinya pelanggaran wilayah. Ancaman militer dapat pula terjadi dalam bentuk pemberontakan bersenjata.     Contoh Ancaman di Bidang Pertahanan dan Keamanan 1. Agresi dan Invasi  Suatu negara yang melakukan agresi terhadap negara lain adalah ancaman bagi kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia yang dilakukan secara fisik. Invasi merupakan bentuk agresi berskala paling besar dengan menggunakan kekuatan militer bersenjata y...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Pertahanan dan Kemanan

  Pertahanan suatu negara diselenggarakan melalui suatu strategi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Negara Indonesia dapat menerapkan pertahanan yang bersifat semesta dengan melibatkan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian NKRI sebagai kekuatan utama dan rakyat Indonesia sebagai kekuatan pendukung. Dapat dilihat pada pasal 30 ayat 1-5 UUD NRI Tahun 1945. UUD NRI tersebut juga memberikan gambaran bahwa strategi pertahanan dan keamanan untuk mengatasi berbagai ancaman militer dilaksanakan dengan (Sishankamrata). Ketentuan tersebut menegaskan bahwa usaha pertahanan dan keamanan negara Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Dengan kata lain pertahanan dan keamanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI dan Polri saja tetapi masyarakat sipil juga bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan negara. Komponen sistem pertahanan dan keamanan rakayat terdiri atas TNI sebagai kekuatan utama sistem pertahanan negara, POLRI s...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Ekonomi

Ancaman berdimensi ekonomi dapat berdampak dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia, seperti yang sudah dibahas pada materi sebelumnya yaitu kasus ancaman dibidang ekonomi terdapat dua sumber yakni melalui ancaman internal dan eksternal, materi tersebut dapat dibaca dan dilihat melalui Link dibawah ini: https://kartina42.blogspot.com/2022/03/ancaman-terhadap-integrasi-nasional_26.html  Untuk menghadapai berbagai ancaman tersebut di perlukan strategi mengatasinya yaitu: 1. Menciptakan Lapangan Perkerjaan Terbukanya lapangan perkerjaan menjadi salah satu faktor penyebab turunnya presentase kemiskinan di Indonesia, turunnya tingkat kemiskinan menjadi parameter meningkatnya kesejahteraan masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan semakin meningkat. 2. Pembangunan Infrastruktur  Pemerataan pembangunan infrastruktur diberbagai daerah akan melancarkan komoditas dan kebutuhan pokok masyarakat dan akan berujung pada kesejahteraan yang merata, jika tercapai...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya di negara-negara berkembang perlu memperhatikan gejala perubahan yang terjadi, terutama mengenai sebab-sebabnya. Hal tersebut terdapat banyak faktor yang mungkin menimbulkan banyak perubahan sosial, diantaranya adalah yang memegang peranan penting ialah adanya faktor teknologi dan kebudayaan. faktor-faktor itu dapat berasal dari luar dan dalam negeri. biasanya yang berasal dari luar menimbulkan banyak perubahan, dengan demikian agar dapat memahami banyak perubahan yang terjadi perlu dipelajari proses perubahan itu terjadi dan diterima oleh masyarakat. Banyak pengaruh dari luar yang perlu diperhatikan karena banyak hal-hal yang tidak menguntungkan serta dapat membahayakan kelangsungan hidup kebudayaan nasional. Bangsa Indonesia harus selalu waspada dalam menghadapi hal-hal tersebut dengan kemungkinan adanya kesengajaan pihak luar untuk memecah kesatuan bangsa dan negara Indonesia artinya bangsa Indonesia harus berusaha memelihara keseimbangan fundamental yaitu an...