Skip to main content

Cara Mengevaluasi dan Menganalisis Soal PPKn dengan Rumus Distraktor dan Tingkat Kesukaran

Menurut Ten Brink dan Terry D (1994) dalam buku Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran karangan Hermi Yanzi  mengemukan evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu dalam mencari yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur serta alternatif startegi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian evaluasi berarti menentukan sampai seberapa jauh sesuatu itu berharga, bermutu atau bernilai.

Evaluasi sendiri sangat penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui seberapa besar keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Dari evaluasi pembelajaran maka akan ditemukan apa yang menjadi penyebab kegagalan dan keberhasilan dalam proses pembelajaran, kemudian akan di kaji kembali dan di perbaiki jika terdapat kesalahan. Dalam proses kegiatan evaluasi guru sebagai evaluator perlu memiliki keterampilan dalam menilai anak didik secara objektif, continue, dan komprehensif.

Melihat pada kenyataannya saat ini terdapat beberapa guru yang tidak melaksanakan evaluasi secara benar dengan alasan tidak mau repot dan tidak paham sepenuhnya bagaimana cara mengevaluasi pembelajaran yang benar. Evaluasi pembelajaran cenderung dilaksanakan ala kadarnya saja dan terkesan tidak penting, Untuk itu urgensi evaluasi pembelajaran dipelajari agar sebagai guru dan calon guru mengetahui cara mengevaluasi proses pembelajaran dengan benar. Agar dalam  pemberian test dan nontest guru sudah dapat memahami kurikulum yang digunakan, materi, kompetensi inti, kompetensi dasar, tujuan yang ingin dicapai, memahami kemampuan peserta didik, memahami kisi-kisi pembuatan soal dan sebagainya.

Evaluasi pada dasarnya diadakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar. Dari evaluasi pembelajaran maka akan ditemukan faktor-faktor kegagalan atau keberhasilan suatu proses pembelajaran. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tylor dalam Sudaryono (2012:50) dalam buku Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran karangan Hermi Yanzi bahwa tujuan evaluasi itu adalah untuk “mengembangkan suatu kebijakan yang bertanggung jawab mengenai pendidikan.” Popham dalam  Sudaryono (2012:50) dalam buku Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran karangan Hermi Yanzi menyatakan bahwa tujuan evaluasi adalah untuk  Membuat keputusan yang lebih baik”. Dengan demikian, tujuan utama dari kegiatan evaluasi adalah untuk membuat keputusan. Dalam hal ini, ada beberapa jenis keputusan, yaitu:

a.         Keputusan mengenai kelayakan seorang siswa, yaitu kepatuttan yang berhubungan dengan siswa, seperti mengenai lulus atau tidaknya, naik kelas atau tidaknya, harus mengulang pelajaran atau tidak.

b.        Keputusan yang bersifat prediksi, yaitu apabila seorang guru memberikan nasihat-nasihat setelah seorang siswa memperoleh kedudukan tertentu dari hasil evaluasi yang dilakukan.

c.         Keputusan untuk menetapkan bagian-bagian mana dari proses pembelajran yang perlu diperbaiki, yang dalam hal ini seorang guru herus betul-betul cermat dalam menentukan apakah tujuan pelajaran harus diperbaiki, apakah materi pelajaran harus disederhanakan,apakah proses belajar harus diubah,apakah alat evaluasi yang digunakan harus diubah pula, dan sebagainya.

Dalam mengevaluasi setiap guru sebagai pengarah pendidikan perlu memperhatikan bagaimana teknik-teknik dan prosedur dalam dunia pendidikan sehingga tujuan dan fungsi evaluasi yang diharapkan dapat tercapai. Langkah-langkah dalam mengevalusi seorang anak atau sekelompok anak perlu adanya perencanaan, pengumpulan data, penilaian data, pengolahan data dan penafsiran data yang telah dikumpulkan sehingga dapat mengambil keputusan berhasil atau tidak dan layak atau tidak dari evaluasi pembelajaran.

Dari segi aspek hasil belajar yang di evaluasi, maka kita melihat adanya hubungan evaluasi dengan hasil kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek ini merupakan aspek yang umum di kenal sebagai ranah tujuan pendidikan. Menurut Suharsimi dalam Sudaryono (2012:53) dalam buku Dasar-Dasar dan Perancangan Evaluasi Pembelajaran karangan Hermi Yanzi tindak lanjut dari kegiatan evaluasi sebagai suatu aktivitas untuk memperoleh informasi yang akurat (cermat) mengenai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran pada siswa merupakan manfaat evaluasi yang masing-masing dapat dilakukan melalui pengadaan tes.

Evaluasi yang dilakukan ditengah-tengah program pembelajaran, yang bermaksud untuk memantau atau memonitori kemajuan siswa guna memberikan umpan balik (feed back), baik kepada siswa maupun kepada guru

Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.

Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organising element) kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang berkesinambungan antara konten yang dipelajari siswa. Organisasi horizontal adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama sehingga terjadi proses saling memperkuat.

Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan sikap keagamaan (kompetensi inti 1), sikap sosial (kompetensi 2), pengetahuan (kompetensi inti 3), dan penerapan pengetahuan (kompetensi 4).Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi inti kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).

Kompetensi dasar adalah kemampuan untuk mencapai Kompetensi Inti yang harus diperoleh oleh peserta didik melalui pembelajaran. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

Mata pelajaran sebagai sumber dari konten untuk menguasai kompetensi bersifat terbuka dan tidak selalu diorganisasikan berdasarkan disiplin ilmu yang sangat berorientasi hanya pada filosofi esensialisme dan perenialisme. Mata pelajaran dapat dijadikan organisasi konten yang dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu atau non disiplin ilmu yang diperbolehkan menurut filosofi rekonstruksi sosial, progresif atau pun humanisme. Karena filosofi yang dianut dalam kurikulum adalah eklektik seperti dikemukakan di bagian landasan filosofi maka nama mata pelajaran dan isi mata pelajaran untuk kurikulum yang akan dikembangkan tidak perlu terikat pada kaedah filosofi esensialisme dan perenialisme.

 

 

 

 

 

2.2 Analisis Kualitatif

Pada prinsipnya analisis butir soal secara kualitatif dilaksanakan berdasarkan kaidah penulisan soal (tes tertulis, perbuatan, dan sikap). Penelaahan ini biasanya dilakukan sebelum soal digunakan/diujikan. Aspek yang diperhatikan di dalam penelaahan secara kualitatif ini adalah setiap soal ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, dan kunci jawaban/pedoman penskorannya.  Dalam melakukan penelaahan setiap butir soal, penelaah perlu mempersiapkan bahan-bahan penunjang seperti: (1) kisi-kisi tes, (2) kurikulum yang digunakan, (3) buku sumber, dan (4) kamus bahasa Indonesia.

 

Teknik Analisis Secara Kualitatif, Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis butir soal secara kualitatif, diantaranya adalah teknik moderator dan teknik panel. Teknik moderator merupakan teknik berdiskusi yang di dalamnya terdapat satu orang sebagai penengah. Berdasarkan teknik ini, setiap butir soal didiskusikan secara bersama-sama dengan beberapa ahli seperti guru yang mengajarkan materi, ahli materi, penyusun/pengembang kurikulum, ahli penilaian, ahli bahasa, berlatar belakang psikologi. Teknik ini sangat baik karena setiap butir soal dilihat secara bersama-sama berdasarkan kaidah penulisannya. Di samping itu, para penelaah dipersilakan mengomentari/ memperbaiki berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Setiap komentar/masukan dari peserta diskusi dicatat oleh notulis. Setiap butir soal dapat dituntaskan secara bersama-sama, perbaikannya seperti apa. Namun, kelemahan teknik ini adalah memerlukan waktu lama untuk rnendiskusikan setiap satu butir soal.

 

Teknik panel merupakan suatu teknik menelaah butir soal yang setiap butir soalnya ditelaah berdasarkan kaidah penulisan butir soal, yaitu ditelaah dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya yang dilakukan oleh beberapa penelaah. Caranya adalah beberapa penelaah diberikan: butir-butir soal yang akan ditelaah, format penelaahan, dan pedoman penilaian/ penelaahannya. Pada tahap awal para penelaah diberikan pengarahan, kemudian tahap berikutnya para penelaah berkerja sendiri-sendiri di tempat yang tidak sama. Para penelaah dipersilakan memperbaiki langsung pada teks soal dan memberikan komentarnya serta memberikan nilai pada setiap butir soalnya yang kriterianya adalah: baik, diperbaiki, atau diganti.

 

Prosedur Analisis Secara Kualitatif. Dalam menganalisis butir soal secara kualitatif, penggunaan format penelaahan soal akan sangat membantu dan mempermudah prosedur pelaksanaannya. Format penelaahan soal digunakan sebagai dasar untuk menganalisis setiap butir soal. Format penelaahan soal yang dimaksud adalah format penelaahan butir soal: uraian, pilihan ganda, Agar penelaah dapat dengan mudah menggunakan format penelaahan soal, maka para penelaah perlu memperhatikan petunjuk pengisian formatnya. Petunjuknya adalah seperti berikut ini.

1.      Analisislah setiap butir soal berdasarkan semua kriteria yang tertera di dalam format!

2.      Berilah tanda cek (V) pada kolom "Ya" bila soal yang ditelaah sudah sesuai dengan kriteria!

3.      Berilah tanda cek (V) pada kolom "Tidak" bila soal yang ditelaah tidak sesuai dengan kriteria, kemudian tuliskan alasan pada ruang catatan atau pada teks soal dan perbaikannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.3 Analisis Kuantitatif

Penelaahan soal secara kuantitatif maksudnya adalah penelaahan butir soal didasarkan pada data empirik dari butir soal yang bersangkutan. Data empirik ini diperoleh dari soal yang telah diujikan.

 

Ada dua pendekatan dalam analisis secara kuantitatif, yaitu pendekatan secara klasik dan modern. Analisis butir soal secara modern yaitu penelaahan butir soal dengan menggunakan Item Response Theory (IRT) atau teori jawaban butir soal. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu soal dengan kemampuan siswa. Nama lain IRT adalah latent trait theory (LTT), atau characteristics curve theory (ICC).  Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik. Kelebihan analisis butir soal secara klasik adalah murah, dapat dilaksanakan sehari-hari dengan cepat menggunakan komputer, murah, sederhana, familier dan dapat menggunakan data dari beberapa peserta didik atau sampel kecil (Millman dan Greene, 1993: 358). Adapun proses analisisnya sudah banyak dilaksanakan para guru di sekolah seperti beberapa contoh di bawah ini. a. Langkah pertama yang dilakukan adalah menabulasi jawaban yang telah dibuat pada setiap butir soal yang meliputi berapa peserta didik yang:

1.      menjawab benar pada setiap soal,

2.      menjawab salah (option pengecoh)

3.      tidak menjawab soal.

Berdasarkan tabulasi ini, dapat diketahui tingkat kesukaran setiap butir soal, daya pembeda soal, alternatif jawaban yang dipilih peserta didik. Misalnya analisis untuk 10 siswa, maka langkahnya :

1.      urutkan skor siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah.

2.      Pilih 5 lembar jawaban pada kelompok atas dan 5 lembar jawaban pada kelompok bawah.

3.      Untuk masing-masing soal, susun jumlah siswa kelompok atas dan bawah pada setiap pilihan jawaban.

4.      Hitung tingkat kesukaran pada setiap butir soal.

5.      Hitung daya pembeda soal.

6.      Analisis efektivitas pengecoh pada setiap soal (Linn dan Gronlund, 1995: 318-319).

 

Aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis butir soal secara klasik adalah setiap butir soal ditelaah dari segi: tingkat kesukaran butir, daya pembeda butir, dan penyebaran pilihan jawaban (untuk soal bentuk obyektif) atau frekuensi jawaban pada setiap pilihan jawaban.

 

A.    Tingkat Kesukaran

Analisis tingkat kesukaran soal yaitu mengkaji soal-soal tes dari segi kesulitannya sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawab, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang dan sukar.Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks.

 

Bermutu atau tidaknya butir-butir item tes hasil belajar pertama-tama dapat diketahui dari derajat kesukaran atau taraf kesulitan yang dimiliki oleh masing-masing butir item tersebut. Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. Bertitik tolak dari pernyataan tersebut di atas maka butir-butir item hasil belajar di mana seluruh testee tidak dapat menjawab dengan betul (karena terlalu sukar) tidak dapat disebut sebagai item yang baik. Demikian pula sebaliknya, butir-butir item tes hasil belajar dimana seluruh testee dapat menjawab dengan betul (karena terlalu mudah) juga tidak dapat dimasukkan dalam kategori item yang baik.

·         Menghitung tingkat kesukaran soal.

Menggunakan rumus :

P=

 

Keterangan:

P = Tingkat Kesukaran

B = Banyak siswa yang menjawab dengan benar

JS = Jumlah seluruh peserta tes

 

Kriteria penafsirannya adalah

p 0,71-1,00          = mudah

p   0,31-0,70          = sedang

p 0,00-0,30          = sukar

 

TINGKAT KESUKARAN SOAL (p)

 

Tingkat Kesukaran

 

Item

 

Indeks Kesukaran

 

Kesimpulan

 

 

1

 

p =  = 0,63

 

 

Sedang

 

 

2

 

 

p =  = 0,51

 

 

Sedang

 

 

3

 

p =  = 0,12

 

Sukar

 

 

4

 

p =

 

 

Mudah

 

 

5

 

p =  = 0,84

 

 

Mudah

 

 

6

 

p =  = 0,72

 

 

Mudah

 

 

7

 

p =

 

 

Sedang

 

 

8

 

p =  = 0,78

 

 

Mudah

 

 

9

 

p =  = 0,36

 

Sedang

 

 

10

 

p =  = 0,87

 

Mudah

 

11

 

p =

 

Mudah

 

12

 

p =  = 0,15

 

Sukar

13

 

p =  = 0,36

 

Sedang

 

14

 

p =  = 0,63

 

Sedang

 

15

 

p =  = 0,36

 

Sedang

 

16

 

p =  = 0,12

 

Sukar

 

17

 

p =  = 0,90

 

Mudah

 

18

 

p =  = 0,87

 

Mudah

 

19

 

p =    = 0,57

 

Sedang

 

20

 

p =

 

Mudah

 

21

 

p =

 

Mudah

 

22

 

p =  = 0,81

 

Mudah

 

23

 

p =  = 0,93

 

Mudah

 

24

 

p =  = 0,87

 

Mudah

 

25

 

p =  = 0,81

 

Mudah

 

26

p =

 

Sedang

 

27

 

p =

 

Mudah

 

28

 

p =

 

Mudah

 

29

 

p =  = 0,54

 

 

Sedang

 

30

 

p =  = 0,42

 

 

Sedang

 

Kesmipulan Tingkat Kesukaran

 

Kategori Tingkat Kesukaran KeseluruhanSoal    :

SANGAT SUKAR                 = 0 Butir Soal  = x 100%       = 0%

SUKAR                                  = 3 Butir Soal  = x 100%       = 10%

SEDANG                                           = 12 Butir Soal = x 100%     = 40%

MUDAH                                 = 15 Butir Soal = x 100%     = 50%

SANGAT MUDAH               = 0 Butir Soal  = x 100%      = 0%

 

B.     Daya Beda

Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item tes hasil belajar untuk dapat membedakan (mendiskriminasi) antara kemampuan tinggi dan rendah. Daya pembeda item itu penting sekali bagi salah satu dasar untuk menyusun butir item tes hasil belajar adalah adanya anggapan.Tes dikatakan tidak memiliki daya pembeda apabila tes tersebut, jika diujikan kepada anak berprestasi tinggi, hasilnya rendah tetapi bila diberikan kepada anak yang lemah hasilnya lebih tinggi. Atau bila diberikan kepada kedua kategori siswa tersebut hasilnya sama saja.

·         Menghitung daya pembeda soal

Rumus :

D = -

           

Keterangan:

D         = daya pembeda

JA        = jumlah peserta didik yang menjawab salah adri kelompok atas

JB        = jumlah peserta didik yang menjawab salah dari kelompok bawah

JS        = Jumlah Siswa kelompok atas/bawah

 

Kriteria penafsiran daya pembeda soal

0,00-0,20         = rendah

0,21-0,40         = cukup

0,41-0,70         = baik

0,71-1,00         = baik sekali

 

Nama Siswa Golongan Atas dan Golongan Bawah

No

Nama Siswa

Golongan Atas

Golongan Bawah

1

Rio Gabriel Yonata 

Angga Saputra

2

Adek Yogi

Amrulloh Arobi

3

Muhammad Shuki

Armado Pranata

4

Ani Nurmala

Yuni Antika

5

Reza Owen Saputra

Ahmad Daris

6

Ajeng Pratiwi

Dodi Pratana

7

Melly Erlina Putri

Zhaikijay

8

Dea Thalesia Syazahra

H. Maidia

9

Siti Fazriah

Monika Olivia

10

Adelia Putri

Rizki Defaningrum

11

Annisa Nabila Nurjannah

Agnes Nadia Sari

12

Bintang Putri Maharani

Dea Lestari

13

Galih Putra Satria

Agustian Wiranara

14

Soni Sonaji

Evo Saputra

15

Johan Saputra

Mutiara

16

Ambar Wati

Nurlaila

17

 

Asep

Jumlah                   16

17

 

 

 

DAYA PEMBEDA SOAL (D)

Daya Pembeda

 

Item

 

Indeks Deskriminasi

 

Kesimpulan

 

 

1

 

D =

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Baik

 

 

2

 

 

D =

 

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

3

 

D =

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Sangat Rendah.

 

 

4

 

D =

 

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup

 

 

5

 

D =

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

6

 

D = 0,06

 

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Rendah.

 

 

7

 

D = = 0,35

 

 

Positif dan signifikan, dan kataegori soal Cukup

 

 

8

 

D = = 0,42

 

 

Positif dan signifikan, dan kategori soal Baik.

 

 

9

 

D =  0,02

 

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Rendah.

 

 

10

 

 

D = = 0,24

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

11

 

D =  = 0,36

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

12

 

D =  = 0,31

 

Positif dan signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

13

 

D = = -0,10

 

Positif dan signifikan, dan kategori soal Sangat Rendah.

 

 

14

 

D = = 0,23

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

15

 

D = = 0,14

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Rendah.

 

 

16

 

D =  = -0,12

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Sangat Rendah

 

 

17

 

D =  =- 0,01

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Sangat Rendah.

 

 

18

 

D =  = 0,24

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

19

 

D =  = 0,58

 

Positif dan signifikan, dan kategori soal Baik.

 

 

20

 

D = = 0,42

 

Positif dan signifikan, dan kategori soal Baik.

 

 

21

 

D  = 0,39

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup

 

 

22

 

D = = 0,23

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

23

 

D = = -0,01

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Sangat Rendah

 

 

24

 

D = = 0,11

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Rendah.

 

 

25

 

D = = 0,05

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Rendah.

 

 

26

 

D = = -0,21

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

27

 

D =  = 0,29

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

28

 

D = = 0,36

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

29

 

D =  = 0,52

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Baik.

 

 

30

 

D = = 0,27

 

Positif dan tidak signifikan, dan kategori soal Cukup.

 

 

KATEGORI KESELURUHAN SOAL:

Soal Sangat Rendah     = 5 Soal

Soal Rendah                = 5 Soal

Soal Cukup                  = 15 Soal

Soal Baik                     = 5 Soal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


C.    Distraktor atau Pengecoh

Distraktor adalah pengecoh, jawaban-jawaban yang mengecoh. Ini bertujuan menarik untuk menjawabnya padahal itu salah. Sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan terhadap fungsi distraktor tersebut maka distraktor yang sudah menjalankan fungsinya dengan baik dapat dipakai lagi pada tesnya.

Tujuan utama pemasangan distraktor pada setiap butir itu adalah, agar dari sekian banyak testee yang mengikuti tes hasil belajar ada yang tertarik atau terangsang untuk memilihnya, sebab mereka menyangka bahwa distraktor yang mereka pilih itu merupakan jawaban yang betul.

Menggunakan rumus;

IP =  x 100%

Keterangan:

IP  = Indeks pengecoh

n    = jumlah opsi pengecoh

JD  = Jumlah Distraktor

JI   = Jumlah seluruh Item/soal

Adapun kualitas pengecoh berdasarkan indeksnya adalah:

     76% - 125%          = sangat baik

     126% - 150%        = baik

     151% - 175%        = kurang baik

     176% - 200%        = jelek

     Lebih dari 200%  = sangat jelek

 

D.    Analisis Kuantitatif Persoal

Analisi Butir Soal :

1.      Dampak negatif dari pelaksanaan demokrasi pancasila pada masa reformasi yang menerapkan konsep kebebasan tanpa batas yaitu, kecuali….

a.      Pergaulan bebas

b.      Kebebasan berbicara dan berekspresi yang di lindungi Negara

c.       Pola komunikasi yang tidak beretika

d.      Menurunkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa

 

a.      Tingkat kesukaran

 = 0,63 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor

A = 6
B =21
C = 4
D = 2

Kunci Jawaban B

A.     x 100 % = 18 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 63 %

C.        x 100 % = 12 % (berfungsi)

D.       x 100 % = 6 % (berfungsi)

d. Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut layak untuk diujikan kepada siswa karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor berfungsi dengan sangat baik.

 

2.      Apakah sistem demokrasi yang pernah diterapkan Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto?

a.       Demokrasi terpimpin

b.      Demokrasi pancasila

c.       Demokrasi parlementer

d.      Demokrasi liberal

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,51 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 0
B =17
C = 1
D = 15

Kunci Jawaban B

A.     x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

B.      x 100 % = 51%

C.        x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

D.       x 100 % = 45 % (berfungsi)

 

d.      Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran dan daya pembeda telah berfungsi dengan baik namun pada distrakor soal tidak berfungsi dengan baik.

e.       Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, soal diatas perlu diperbaiki pada pilihan ganda atau distraktornya.

(Perbaikan soal nomor 2)

Apakah sistem demokrasi yang pernah diterapkan Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto?

a.       Demokrasi terpimpin diganti dengan Demokrasi Terpusat

b.      Demokrasi pancasila

c.       Demokrasi parlementer  diganti dengan Demokrasi Kebebasan mutlak

d.      Demokrasi liberal

 

3. Indonesia pernah menerapkan idiologi pancasila yang diarahkan sebagai idiologi liberal namun ternyata tidak menjamin stabilitas pemerintah.

Penyataan diatas terjadi pada masa…

a.      Masa orde lama

b.      Masa orde baru

c.       Masa campuran

d.      Masa reformasi

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,12 (sukar)

b.      Daya Pembeda

c. Distraktor Soal

     A = 4
     B = 25       
     C  = 0
     D  = 4

Kunci Jawaban A

A.     x 100 % = 12%

B.      x 100 % = 75% (berfungsi)

C.      x 100 % = 0% (Tidak berfungsi)

D.     x 100 % = 12% (berfungsi)

d. Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut  buruk  karena daya pembeda dan distrakor tidak berfungsi dengan baik sehingga tidak layak untuk diujikan.

e.       Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, soal diatas perlu diganti dengan soal yang lebih baik sebagai berikut.

(Pergantian soal nomor 3)

Nilai dan cita-cita tidak dapat dipaksakan dari luar melainkan diambil dari rohani, moral, budaya masyarakat itu sendiri.

Pernyataan diatas termasuk kedalam ciri ?

a.       Idilogi Tertutup

b.      Idilogi Terbuka

c.       Idilogi Campuran

d.      Idilogi Komnis

 

4.      Partisipasi yang dilakukan masyarakat dalam kegiatan ronda (siskambling) merupakan perwujudan nilai pancasila di bidang?

a.    Pertahanan dan keamanan

b.    Ekonomi

c.    Sosial budaya

d.   Politik

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,96 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 32
B = 0
C = 0
D = 1

Kunci Jawaban A

A.     x 100 % =  96%

B.      x 100 % = 0% ( Tidak berfungsi)

C.      x 100 % = 0% (Tidak berfungsi)

D.     x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut  buruk  karena pada daya pembeda dan distrakor tidak berfungsi dengan baik.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, soal diatas tidak layak digunakan dan kami ganti dengan soal berikut

(Pergantian soal nomor 4)

Apakah yang dimaksud dengan idiologi pancasila yang bersifat utopis?

a.      Hanya merupakan system ide-ide belaka yang jauh dari kehidupan seharihari secara nyata

b.      Doktrin belaka yang bersifat tertutup

c.       Hanya menekan pada segi praktis belaka tanpa adanya aspek idialisme

d.      Stabilitas nasional yang dinamis

 

5.      apakah ciri khas dari idiologi terbuka?

a.       Kenyakinan idiologis perserangan atau kelompok

b.      Idiologi di ciptakan oleh Negara dan penguasa Negara

c.       Nilai dan cita-citanya tidak di paksa dari luar melainkan di gali dari kekayaan budaya masyarakatnya sendiri

d.      Cenderung di paksakan

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,84 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.        Distraktor Soal

 A = 2
 B = 1
 C = 28
 D = 2

Kunci Jawaban C

A.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

C.      x 100 % = 84%

D.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut  cukup baik  karena pada daya pembeda dan tingkat kesukaran sesuai dengan harapan namun pada distraktor pilihan ganda B tidak berfungsi dengan baik.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor pilihan ganda B.

(Perbaikan Soal nomor 5)

Apakah ciri khas dari idiologi terbuka?

a.       Kenyakinan idiologis perserangan atau kelompok

b.      Idiologi di ciptakan oleh Negara dan penguasa Negara diperbaiki dengan Kepercayaan dan kesetiaan yang kaku

c.       Nilai dan cita-citanya tidak di paksa dari luar melainkan di gali dari kekayaan budaya masyarakatnya sendiri

d.      Cenderung di paksakan

 

 

6.      Demokrasi yang mengutamakan musyawah tidak berdasarkan pada masyarakat masyoritas dan minoritas, seperti adanya pelaksanaan pemilu merupakan perwujudan nilai-nilai pancasila dibidang....

a.       Pertahanan dan keamanan

b.      Ekonomi

c.       Sosial budaya

d.      Politik

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,72 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 0
B = 4
 C = 7
 D = 22

Kunci Jawaban D

A.     x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

B.      x 100 % = 12% ( Berfungsi)

C.      x 100 % = 21% (berfungsi)

D.     x 100 % = 66 %

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut buruk  karena tingkat kesukaran dan distraktor cukup berfungsi dengan baik namun padadaya pembeda soal tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi diatas, maka soal tersebut perlu diperbaiki agar layak untuk diujikan.

(Perbaikan Soal nomor 6)

Sikap kekeluargaan, musyawarah dan bergotong royong merupakan perwujudan nilai-nilai pancasila dalam bidang...

a.       Hukum

b.      Politik

c.       Kemasyarakatan

d.      Sosial

 

7.      Apakah perwujudan nilai-nilai pancasila dibidang ekonomi yang mudah ditemukan dilingkungan sekolah...

a.      Koperasi sekolah

b.      Mengerjakan pr

c.       Mengikutin upacara sekolah

d.      Mencium tangan guru saat berjumpa

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,69 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 23
B = 2
C = 6

D = 2

Kunci Jawaban A

A.     x 100 % = 64 %

B.      x 100 % = 6% (berfungsi)

C.      x 100 % = 18% (berfungsi)

D.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

 

d.      Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut baik dan layak untuk diujikan karena pada daya pembeda, tingkat kesukaran dan distraktor berfungsi dengan baik serta sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

 

8.      Perwujudan nilai-nilai pancasila yang mewajibkan setiap warga negara ikut serta dalam usaha pertahanan keamanan negara ditegaskan dalam UUD 1945 pasal...

a.       Pasal 28

b.      Pasal 29

c.       Pasal 30

d.      Pasal 31

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,78 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 2
B = 2
C = 26

D = 3

Kunci Jawaban C

A.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 6% ( berfungsi)

C.      x 100 % = 78%

D.     x 100 % = 9 % (berfungsi)

 

d.      Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut baik dan layak untuk diujikan karena pada tingkat kesukaran, daya pembeda dan distraktor soal berfungsi dengan baik dan sesuai harapan.

 

9.      Dibawah ini yang termasuk manfaat ideologi didalam masyarakat adalah..

a.       Dapat mengemukakan pendapat sesuai dengan isi hati

b.      Tidak ada pemaksaan suatu pengaturan

c.       Dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok tertentu

d.      Bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,36 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 16
B =14
C= 1
D = 12 

Kunci Jawaban D

A.     x 100 % = 48 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 42% (berfungsi)

C.      x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

D.     x 100 % = 36 %

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut buruk  karena pada distraktor pilihan ganda D tidak berfungsi dengan baik.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi diatas, maka soal tersebut perlu diperbaiki agar layak untuk diujikan.

(Perbaikan soal nomor 9)

Nilai dasar yang terkandung dalam pancasila bersifat sistematis, rasional, dan menyeluruh adalah penekanan pancasila dari dimensi...

a.       Rasionalisme

b.      Idealisme

c.       Abstrak

d.      Konstruktivisme

 

10.  Makna apakah yang terkandung dalam ideologi terbuka?

a.      terbuka terhadap pemikirandan perkembangan baru dimasyarakat

b.      tidak dapat dikompromikan dengan kemauan masyarakat

c.       terbuka terhadap pengaruh yang datangnya dari negara lain

d.      tidak dapat dipaksakan orang lain

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,87 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 2
B = 0
C = 29
D = 2

Kunci Jawaban C

a.        x 100 % = 6 % (berfungsi)

b.       x 100 % = 0% (Tidak berfungsi)

c.        x 100 % = 87%

d.       x 100 % = 6 % (berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal diatas baik karena pada tingkat kesukaran, dan daya pembeda berfungsi sesuai dengan yang diharapkan , namun pada distraktor soal tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan dari prediksi tersebut, maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor B.

(Perbaikan soal nomor 10)

Makna apakah yang terkandung dalam ideologi terbuka?

a.       Terbuka terhadap pemikirandan perkembangan baru dimasyarakat

b.      Tidak dapat dikompromikan dengan kemauan masyarakat  Diganti dengan Tidak sesuai dengan tujuan masyarakat

c.       Terbuka terhadap pengaruh yang datangnya dari negara lain

d.      Tidak dapat dipaksakan orang lain

 

11.  Makna apakah yang terkandung dalam ideologi terbuka?

a.      terbuka terhadap pemikirandan perkembangan baru dimasyarakat

b.      tidak dapat dikompromikan dengan kemauan masyarakat

c.       terbuka terhadap pengaruh yang datangnya dari negara lain

d.      tidak dapat dipaksakan orang lain

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,81 (mudah)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 27
B = 2
C = 2
D = 2

Kunci Jawaban A

A.     x 100 % = 81 %

B.      x 100 % = 6% (berfungsi)

C.      x 100 % = 6% (berfungsi)

D.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

 

d.      Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut baik dan layak untuk diujikan karena pada tingkat kesukaran, daya pembeda dan distraktor berfungsi dengan baik dan sesuai harapan sehingga layak untuk diujikan.

 

12.  Pemberontakan DI/TII dipimpin oleh Sekarmaji marijan kartosuwiryo pada periode...

a.       Periode 1945-1950

b.      Periode 1950-1959

c.       Periode 1959-1966

d.      Semua benar

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,15 (sukar)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 5
B = 7
C = 10
D = 11

Kunci Jawaban A

A.     x 100 % = 15 %

B.      x 100 % = 21% (berfungsi)

C.      x 100 % = 30% (berfungsi)

D.     x 100 % = 33 % (berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut baik dan layak untuk diujikan karena pada tingkat kesukaran, daya pembeda dan distraktor soal berfungsi dengan baik dan sesuai harapan.

 

13.  Apa pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945 yang mengantung Konsekuensi logis?

b.      Negara yang Berkedalutan rakyat Berasarkan atas  Kerakayataan

c.       Permusayawatan / Perwaklan ( Pokok pikiran Kedaulatan Rakyat)

d.      Sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undangan karakyatan

e.       Aliran yang Mensesuaikan dengan sifat nilai Mufakat Indonesia

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,36 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 2
B = 12
C = 12
D = 7

Kunci Jawaban B

A.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 36%

C.      x 100 % = 36% (berfungsi)     

D.     x 100 % = 18 % (berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran, dan distraktor berfungsi dengan baik namun pada daya pembeda soal tidak berfungsi sesuai dengan harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada kata-kata soal yang lebih baik.

(Pergantian soal nomor 13)

Salah satu mana pembukaan UUD 1945 alinea pertama adalah...

a.       Adanya pertanyaan proklamasi kemerdekaan Indonesia

b.      Keinginan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa

c.       Kemerdekaan yang diperoleh merupakan berkat dari Rahmat Allah Yang Maha Kuasa

d.      Bangsa Indonesia siap membantu bangsa-bangsa lain untuk merdeka

 

14.  Apakah pokok pikiran alinea kedua dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan penjabaran dari sila kelima pancasila?

a.       Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

b.      Negara yang berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan

c.       Negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa

d.      Negara hendak mewujudkan keadilan keadilansosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,63 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 10
B =0
C = 2
D = 21

Kunci Jawaban D

A.     x 100 % = 30 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 0% (Tidak Berfungsi)

C.      x 100 % = 6% (berfungsi)

D.     x 100 % = 63 %         

d. Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada daya pembeda dan tingkat kesukaran berfungsi dengan baik namun pada distraktor pilihan ganda B tidak berfungsi dengan baik.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, maka soal diatas perlu diperbaiaki pada distraktor pilihan ganda B.   

(Perbaikan soal nomor 14)

Apakah pokok pikiran alinea kedua dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan penjabaran dari sila kelima pancasila?

a.       Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

b.      Negara yang berkedaulatan rakyat berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan Diperbaiki dengan Negara Indonesia berdasar atas persatuan

c.       Negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa

d.      Negara hendak mewujudkan keadilan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

 

15.  Apakah sumber hukum tertinggi di Indonesia?

a.       Pancasila

b.      Pembukaan UUD NRI 1945

c.       Buku Pelajaran

d.      Jurnal

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,36 (sedang)

b.      Daya Pembeda

c.       Distraktor Soal

A = 19
B = 12
C = 0
D = 2

Kunci Jawaban B

A.     x 100 % = 57 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 36%

C.      x 100 % = 0% (Tidak berfungsi)

D.     x 100 % = 6 % (berfungsi)

d.Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut tidak baik karena pada daya pembeda dan distraktor pada pilihan ganda C tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki.

(Pergantian soal nomor 15)

Undang-Undang Dasar 1945 yang terdiri atas pembukaan dan pasal-pasal yang disahkan oleh PPKI pada tanggal...

a.       16 Agustus 1945

b.      17 Agustus 1945

c.       18 Agustus 1945

d.      19 Agustus 1945

 

 

16.  Apakah aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan negara yang menjadi pelengkap kekosongan dalam Undang-Undang Dasar 1945?

a.       Norma hukum

b.      Peraturan

c.       Konvensi

d.      Semua benar

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,12 (sukar)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 15
B = 4
C = 4
D = 10

Kunci Jawaban C

A.     x 100 % = 45 % (berfungsi)

B.      x 100 % = 12% (berfungsi)

C.      x 100 % = 12%

D.     x 100 % = 30 % (berfungsi)

d.      Analisis

Berdasarkan analisis kuantitatif diatas, menurut kami soal tersebut buruk karena pada  daya pembeda soal tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diganti dengan soal yang yang lebih baik.

(Penggantian Soal nomor 16)

Apakah hakikat dari pokok-pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945?

a.       Pancaran nilai-nilai ketuhanan

b.      Pancaran nilai-nilai kerakyatan

c.       Panacaran nilai-nilai persatuan

d.      Pancaran nilai-nilai pancasila

 

17.  Apakah pokok pikiran yang menjadi dasar moral negara Indonesia dan merupakan penjabaran dari sila pertama pancasila?

a.       Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkanatas kerakyatan dan permusyawarahan

b.      Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan melindungi seluruh tumpah darah Indonesia yang berdasar atas Persatuan

c.       Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha Esa, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradap

d.      Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

a.      Tingkat Kesukran

 = 0,90 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 1
B = 2
C = 30
D = 0

Kunci Jawaban C

A.       x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

B.        x 100 % = 6% (berfungsi)

C.        x 100 % =

D.       x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

 

d.      Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut buruk  karena pada daya beda, tingkat kesukaran serta distraktor tidak berfungsi dengan baik atau tidak sesuai harapan sehingga soal tersebut tidak layak untuk diujikan.

e.       Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu di ganti dengan soal yang lebih baik.

(Penggatian Soal nomor 17)

Sistem negara yang terbentuk dalam UUD 1945 harus berdasarkan atas kedaulatan rakyat dan berdasarkan atas permusyawaratan atau perwakilan. Pernyataan tersebut merupakan....

a.       Contoh pembukaan UUD 1945

b.      Pokok pemikiran pembukaan UUD 1945

c.       Tujuan pembukaan UUD 1945

d.      Makna pembukaan UUD 1945

 

18.  Apakah perwujudan sikap positif dalam pokok pikiran pembukaan UUD NRI 1945 keempat (pokok pikiran ketuhanan)?

a.      Kerukunan umat beragama

b.      Semangat proklamasi

c.       Membersihkan jalan raya

d.      Berangkat sekolah tepat waktu

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,87 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 29
B =3
C = 0
D = 1

Kunci Jawaban A

A.  x 100 % =

B.  x 100 % = 9% (berfungsi)

C.   x 100 % = 0% (Tidak berfungsi)

D.  x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

 

d.      Analisis

Menurut  analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut baik karena pada tingkat kesukaran dan daya pembeda berfungsi dengan baik namun pada distraktor C dan D tidak berfungsi.

e.       Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor C dan D.

(Perbaikan soal nomor 18)

Apakah perwujudan sikap positif dalam pokok pikiran pembukaan UUD NRI 1945 keempat (pokok pikiran ketuhanan)?

a.       Kerukunan umat beragama

b.      Semangat proklamasi

c.       Membersihkan jalan raya diperbaiki dengan Ikut serta dalam aksi jalan

d.      Berangkat sekolah tepat waktu diperbaiki dengan Ikut serta dalam PEMILU

 

19.  Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan perwujudan sikap positif dari pokok pikiran persatuan yang diterapkan dalam lingkungan...

a.       Keluarga

b.      Sekolah

c.       Masyarakat

d.      Bangsa dan Negara

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,57 (sedang)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 2
B =3
C = 9
D = 19

Kunci Jawaban D

A.  x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 9%  (berfungsi)

C.   x 100 % = 27% (berfungsi)

D.  x 100 % = 6%

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut baik karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor berfungsi dengan baik dan sesuai dengan harapan serta soal layak untuk diujikan.

 

20.  Apakah hukum yang mengatur hubungan antar Negara?

a.       Hukum nasional

b.      Hukum internasional

c.       Hukum asing

d.      Hukum pidana

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,78 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 23
B =2
C = 6
D = 2

Kunci Jawaban B

A.  x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 6%

C.   x 100 % = 6% (berfungsi)

D.  x 100 % = 9 % (berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut baik karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor berfungsi dengan baik dan sesuai dengan harapan serta soal layak untuk diujikan.

 

21.  Menjaga lingkungan agar tetap aman, tertib dan damai adalah kewajiban setiap.....

a.       Kepolisian

b.      Warga negara

c.       Presiden dan wakil presiden

d.      Semua benar

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,78 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 2
B =16
C = 1
D = 14

Kunci Jawaban D

A.  x 100 % = 6 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 48% (berfungsi)

C.   x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

D.  x 100 % = 42%

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran dan daya beda berfungsi dengan baik namun pada distraktor pilihan ganda C tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor pilihan ganda C.

(Perbaikan soal nomor 21)

Menjaga lingkungan agar tetap aman, tertib dan damai adalah kewajiban setiap.....

a.       Kepolisian

b.      Warga biasa

c.       Presiden dan wakil presiden Diperbaiki dengan Pejabat pemerintah

d.      Semua benar

 

22.  Dibawah ini ciri ciri seseorang yang berprilaku sesuai dengan hukum adalah....

a.       Dikucilkan oleh masyarakat

b.      Melakukan tindak pidana korupsi

c.       Melanggar hukum

d.      Hidup tertib dan damai

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,81 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 0
B = 3
C = 3
D = 27

Kunci Jawaban D

A.  x 100 % = 18 % (Tidak berfungsi)

B.  x 100 % = 9% (berfungsi)

C.   x 100 % = 9% (berfungsi)

D.  x 100 % = 63%

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran, daya beda berfungsi dengan cukup baik namun pada distraktor pilihan ganda A tidak berfungsi.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor pilihan ganda A.

(Perbaikan Soal nomor 22)

Dibawah ini ciri ciri seseorang yang berprilaku sesuai dengan hukum adalah....

a.       Dikucilkan oleh masyarakat Diperbaiki dengan Membantu sesama

b.      Melakukan tindak pidana korupsi

c.       Melanggar hukum

d.      Hidup tertib dan damai

 

23.  Dibawah ini, manakah contoh sikap seseorang yang mencerminkan sikap taat hukum....

a.       Membuang sampah sembarangan

b.      Menerobos rambu2 lalu lintas

c.       Membayar pajak

d.      Tidak memiliki SIM

 

a.       Tingkat Kesukaran

 = 0,93 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 6
B =21
C = 4
D = 2

Kunci Jawaban C

A.  x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

B.  x 100 % = 0% ( Tidak Berfungsi)

C.   x 100 % =

D.  x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut buruk karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut, maka soal diatas perlu diganti.

(Penggantian soal nomor 23)

Adanya hukum pidana dalam suatu negara, merupakan penggolongan hukum berdasarkan ....

a.       Sumbernya

b.      Bentuknya

c.       Sifatnya

d.      Isinya

 

24.  Taat beribadah, suka beramal adalah ciri ciri seseorang yg patuh terhadap....

a.       Norma hukum

b.      Norma kesopanan

c.       Norma kesusilaan

d.      Norma agama

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,87 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 0
B =2
C = 2
D = 29

Kunci Jawaban D

A.  x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

B.  x 100 % = 6% ( Berfungsi)

C.   x 100 % = 6% (berfungsi)

D.  x 100 % = 6%

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut buruk karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diganti.

(Penggantian soal nomor 24)

Hukum berlaku di masyarakat dan harus ditaati oleh masyarakat. Hal tersebut dapat terjadi karena hukum memiliki sifat...

a.       Menguji

b.      Memaksa

c.       Memberdayakan

d.      Mengecoh

 

25.  Perilaku apa saja yang mencerminkan sikap patuh terhadap hukum didalam kehidupan sehari - hari ....

a.       Membatah orang tua

b.      Ibadah pada tempatnya

c.       Mematuhi peraturan rambu lalu lintas

d.      Semua jawaban bener

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,81 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 0
B =4
C = 27
D = 2

Kunci Jawaban C

A.  x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

B.  x 100 % = 12% (berfungsi)

C.   x 100 % =  12%

D.  x 100 % = 6 % (berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut buruk karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diganti.

(Penggantian soal nomor 25)

Adanya Ius Constitutum dan Ius Constituendum merupakan pembagian hukum yang bedasarkan pada..

a.       Bentuknya

b.      Tempat berlakunya

c.       Waktu berlakunya

d.      Cara Mempertahankannya

 

26.  Sanksi berupa sindiran atau ejekan akan di peroleh seseorang yang melanggar norma......

a.       Agama

b.      Kesopanan

c.       kesusilaan

d.      Hukum

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,51 (sedang)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 3
B = 12
C = 17
D = 2

Kunci Jawaban C

A.  x 100 % = 9 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 36% (berfungsi)

C.   x 100 % =  51%

D.  x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

 

d.      Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran dan daya pembeda berfungsi cukup baik namun pada distraktor pilihan ganda D tidak berfungsi sesuai harapan.

e.       Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki.

 (Penggantian Soal nomor 26)

Norma hukum mempunyai sanksi tegas dan jelas yang dibuat oleh...

a.       Masyarakat

b.      Kepala suku

c.       Tokoh Masyarakat

d.      Pemerintah

 

27.  Apa fungsi utama hukum ?

a.       Menghukum orang tua yang berbuat salah

b.      Mengatur perilaku manusia

c.       Melayani kebutuhan masyarakat

d.      Melayani kebutuhan pemerintah

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,72 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 5
B =24
C = 3
D = 1

Kunci Jawaban B

A.  x 100 % = 15 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 72%

C.   x 100 % = 9% (berfungsi)

D.  x 100 % = 3 % (Tidak berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukran dan daya pembeda berfungsi cukup baik namun pada distraktor pilihan ganda D tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor pilihan ganda D.

(Perbaikan Soal nomor 27)

Apa fungsi utama hukum ?

a.       Menghukum orang tua yang berbuat salah

b.      Mengatur perilaku manusia

c.       Melayani kebutuhan masyarakat

d.      Melayani kebutuhan pemerintah Diperbaiki dengan Memberi rasa aman hanya kepada presiden

 

28.  Apakah contoh Kegiatan dalam norma keagamaan adalah.....

a.      Beribadah , tidak berjudi , suka beramal

b.      Berlaku jujur, menghargai orang lain

c.       Menghormati orang yang lebih tua , tidak berkata kasar , menerima dengan tangan kanan

d.      Harus tertib , harus sesuai prosedur , dilarang mencuri

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,82 (mudah)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 27
B = 2
C = 4

D = 0

Kunci Jawaban A

A.  x 100 % = 81 %

B.  x 100 % = 6% (berfungsi)

C.   x 100 % = 12% (berfungsi)

D.  x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran dan daya pembeda  soal berfungsi baik namun pada distraktor pilihan ganda D tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki.

(Perbaikan Soal nomor 28)

Perbedaan utama antara norma hukum dengan norma agama, norma kesusilaan serta norma kesopanan adalah dalam hal...

a.      Efektivitas Sanksi

b.      Rumusan Aturan

c.       Sumber Aturan

d.      Objek Aturan

 

29.  Apakah contoh kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap warganegara untuk menciptakan keamanan dan ketertiban adalah.........

a.       Menjaga kerukunan hidup dengan tetangga atas dasar saling menghormati

b.      Mematuhi peraturan – peraturan hukum yang sesuai dengan kehendak warga masyarakat

c.       Menjaga perasaan orang lain dengan membatasin diri dalam bergaul

d.      Melarang warga masyarakat melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,54 (sedang)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 14
B = 18
C = 1
D = 0

Kunci Jawaban B

A.  x 100 % = 42 % (berfungsi)

B.  x 100 % = 54%

C.   x 100 % = 3% (Tidak berfungsi)

D.  x 100 % = 0 % (Tidak berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut cukup baik karena pada tingkat kesukaran dan daya pembeda berfungsi baik namun pada distraktor pilihan ganda C dan D tidak berfungsi sesuai harapan.

e.Rekomendasi

Berdasarkan prediksi tersebut maka soal diatas perlu diperbaiki pada distraktor pilihan ganda C dan D.

(Perbaikan Soal nomor 29)

Apakah contoh kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap warganegara untuk menciptakan keamanan dan ketertiban adalah.........

a.       Menjaga kerukunan hidup dengan tetangga atas dasar saling menghormati

b.      Mematuhi peraturan – peraturan hukum yang sesuai dengan kehendak warga masyarakat

c.       Menjaga perasaan orang lain dengan membatasin diri dalam bergaul Diperbaiki dengan Membiarkan anak-anak untuk tidak belajar keagamaan

d.      Melarang warga masyarakat melakukan aktivitas di luar rumah pada malam hari Diperbaiki dengan Melakukan aktivitas gerakan tanpa sosialisasi

 

30.  Apa pokok pikiran dalam pembukaan UUD 1945 yang mengantung Konsekuensi logis?

a.       Negara yang Berkedalutan rakyat Berasarkan atas  Kerakayataan

b.      Permusayawatan / Perwaklan ( Pokok pikiran Kedaulatan Rakyat)

c.       Sistem negara yang terbentuk dalam Undang-Undangan karakyatan

d.      Aliran yang Mensesuaikan dengan sifat nilai Mufakat Indonesia

 

a.      Tingkat Kesukaran

 = 0,42 (sedang)

b.      Daya Beda

c.       Distraktor

A = 19
B =14
C = 6
D = 3

Kunci Jawaban A

A.  x 100 % = 57 %

B.  x 100 % = 42% (berfungsi)

C.   x 100 % = 18% (berfungsi)

D.  x 100 % = 9 % (berfungsi)

d. Analisis

Menurut analisis kuantitatif diatas, maka menurut kami soal tersebut baik karena pada tingkat kesukaran, daya beda dan distraktor soal berfungsi dengan baik dan sesuai dengan harapan sehimgga soal layak untuk diujikan.

Comments

Popular posts from this blog

Ancaman di Bidang Politik

Ancaman dibidang politik merupakan ancaman yang dapat bersumber dari luar negeri maupun dalam negeri dan Ancaman di bidang politik adalah setiap usaha dan kegiatan baik dalam negeri maupun luar negeri yang dikategorikan sebagai hal yang membahayakan dan memecah belah persatuan dengan mengatas namakan politik. Dari luar negeri ancaman dibidang politik dapat dilakukan oleh suatu negara dengan melakukan tekanan politik terhadap Indonesia. Intimidasi, provokasi, atau blokade politik ialah merupakan bentuk ancaman non-militer berdimensi politik yang sering kali digunakan oleh pihak-pihak lain untuk menekan negara lain. Bentuk ancaman yang berasal dari luar negeri diperkirakan masih berpotensi terhadap Indonesia, yang memerlukan peran dari fungsi pertahanan non-militer untuk menghadapinya.  Berikut ini merupakan contoh ancaman politik yang berasal dari dalam negeri:  1. Korupsi (Tindak pidana korupsi merupakan contoh ancaman politik yang bersifat intern, tindakan korupsi dapat merug...

Ancaman dibidang Ekonomi

  Ancaman integrasi nasional di bidang ekonomi merupakan sebuah ancaman yang di dalamnya tidak dilibatkan kekuatan senjata atau peralatan berbahaya lainnya di bidang ekonomi namun jika terus dibiarkan maka ancaman tersebut akan berbahaya bagi kedaulatan dan keutuhan seluruh wilayah negara serta akan memberi dampak buruk terhadap keselamatan masyarakat terutama di bidang ekonomi.Ancaman dibidang ekonomi adalah berbagai usaha serta kegiatan yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri yang dinilai mengancam serta membahayakan keamanan finansial dan pertumbuhan ekonomi nasional bangsa Indonesia. Pada saat ini ekonomi suatu negara tidak dapat berdiri sendiri Hal tersebut merupakan bukti nyata dari pengaruh globalisasi. Dapat dikatakan saat ini tidak ada lagi negara yang mempunyai kebijakan ekonomi yang tertutup dan pengarah negara laimya Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomo dan perdagangan ketika negara-negara diseluruh dunia menjadi satu kekuatan pas...

Ancaman Terhadap Integrasi Nasional di Bidang Ideologi

A. Ancaman dibidang Ideologi Ideology secara etimologis berasal dari kata idea dan logos. Idea berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita. Kata idea berasal dari bahasa yunani ideos yang berarti bentuk atau idean yang berarti melihat, sedangkan logos berarti ilmu. Ideology dapat juga diartikan suatu kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas, pendapat yang memberikan arah tujuan untuk kelangsungan hidup. Ancaman dibidang Ideologi adalah ancaman yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan pemikiran masyarakat suatu Negara sehingga akan mengancam terhadap dasar falsafah Negara yaitu pancasila.    B. Ciri-ciri ancaman dibidang Ideologi:  1. Menciptakan konflik  2. Menghalalkan segala cara  3. Masuknya paham lain  4. Pandangan terhadap agama yang sempit  5. Masalah primordialisme  6. Perlakuan kelompok radikal    C. Akibat/Penyebab ancaman dibidang Ideologi:  1. Melemahnya pemahaman mayarakat tentang ideology bangsa...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Politik

Jika membahas tentang Politik maka sangat berkaitan dan berhubungan dengan keputusan dan kebijakan penyelenggaraan Negara untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, Indonesia yang menganut paham demokrasi Pancasila harus mampu menumbuhkan dan membentuk pemerintahan yang kuat, mandiri, dan tahan uji serta mampu mengelola berbagai konflik didalamnya. Strategi mengatasi   ancaman berdimensi politik sebagai berikut: a.        Pendekatan kedalam (penataan system politik dalam negeri yang bertujuan menciptakan stabilitas politik dalam negeri yang dinamis) pendekatan ini dapat dilakukan dengan 3 pilar yaitu: 1.       Penguatan pemerintahan Negara yang sah, efekti, bersih nerwibawa dan bebas KKN serta bertanggung jawab. Strategi ini akan mampu mewujudkan tujuan pembentukan pemerintahan negara sesuai pembukaan UUD NRI Tahun 1945. 2.       Penguatan lembaga legislative bertujuan menciptakan lembaga yang b...

Ancaman dibidang Pertahanan dan Kemanan NKRI

Ancaman di bidang pertahanan dan keamanan adalah ancaman terhadap integrasi bangsa yang perlu kita waspadai yang mengancam segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah sebuah negara dan keselamatan segenap bangsa yang dapat berasal dari luar maupun dalam negeri. Bentuk lain dari ancaman militer terjadinya adalah tindakan pelanggaran wilayah (wilayah laut, ruang udara, dan daratan) Indonesia oleh negara lain. Konsekuensi Indonesia yang memiliki wilayah yang sangat luas dan terbuka berpotensi terjadinya pelanggaran wilayah. Ancaman militer dapat pula terjadi dalam bentuk pemberontakan bersenjata.     Contoh Ancaman di Bidang Pertahanan dan Keamanan 1. Agresi dan Invasi  Suatu negara yang melakukan agresi terhadap negara lain adalah ancaman bagi kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa Indonesia yang dilakukan secara fisik. Invasi merupakan bentuk agresi berskala paling besar dengan menggunakan kekuatan militer bersenjata y...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Pertahanan dan Kemanan

  Pertahanan suatu negara diselenggarakan melalui suatu strategi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Negara Indonesia dapat menerapkan pertahanan yang bersifat semesta dengan melibatkan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian NKRI sebagai kekuatan utama dan rakyat Indonesia sebagai kekuatan pendukung. Dapat dilihat pada pasal 30 ayat 1-5 UUD NRI Tahun 1945. UUD NRI tersebut juga memberikan gambaran bahwa strategi pertahanan dan keamanan untuk mengatasi berbagai ancaman militer dilaksanakan dengan (Sishankamrata). Ketentuan tersebut menegaskan bahwa usaha pertahanan dan keamanan negara Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh warga negara Indonesia. Dengan kata lain pertahanan dan keamanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI dan Polri saja tetapi masyarakat sipil juga bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan negara. Komponen sistem pertahanan dan keamanan rakayat terdiri atas TNI sebagai kekuatan utama sistem pertahanan negara, POLRI s...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Ekonomi

Ancaman berdimensi ekonomi dapat berdampak dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia, seperti yang sudah dibahas pada materi sebelumnya yaitu kasus ancaman dibidang ekonomi terdapat dua sumber yakni melalui ancaman internal dan eksternal, materi tersebut dapat dibaca dan dilihat melalui Link dibawah ini: https://kartina42.blogspot.com/2022/03/ancaman-terhadap-integrasi-nasional_26.html  Untuk menghadapai berbagai ancaman tersebut di perlukan strategi mengatasinya yaitu: 1. Menciptakan Lapangan Perkerjaan Terbukanya lapangan perkerjaan menjadi salah satu faktor penyebab turunnya presentase kemiskinan di Indonesia, turunnya tingkat kemiskinan menjadi parameter meningkatnya kesejahteraan masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan semakin meningkat. 2. Pembangunan Infrastruktur  Pemerataan pembangunan infrastruktur diberbagai daerah akan melancarkan komoditas dan kebutuhan pokok masyarakat dan akan berujung pada kesejahteraan yang merata, jika tercapai...

Strategi Mengatasi Ancaman di Bidang Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya di negara-negara berkembang perlu memperhatikan gejala perubahan yang terjadi, terutama mengenai sebab-sebabnya. Hal tersebut terdapat banyak faktor yang mungkin menimbulkan banyak perubahan sosial, diantaranya adalah yang memegang peranan penting ialah adanya faktor teknologi dan kebudayaan. faktor-faktor itu dapat berasal dari luar dan dalam negeri. biasanya yang berasal dari luar menimbulkan banyak perubahan, dengan demikian agar dapat memahami banyak perubahan yang terjadi perlu dipelajari proses perubahan itu terjadi dan diterima oleh masyarakat. Banyak pengaruh dari luar yang perlu diperhatikan karena banyak hal-hal yang tidak menguntungkan serta dapat membahayakan kelangsungan hidup kebudayaan nasional. Bangsa Indonesia harus selalu waspada dalam menghadapi hal-hal tersebut dengan kemungkinan adanya kesengajaan pihak luar untuk memecah kesatuan bangsa dan negara Indonesia artinya bangsa Indonesia harus berusaha memelihara keseimbangan fundamental yaitu an...